Hanya setitik kecil ungkap syukurku untuk Sebentang Luas Karunia-Mu

Sebuah tanda syukur bagi Tuhanku atas karunia Orangtua dan keluargaku.

PENGUKURAN, KALIBRASI DAN AGAMA
APA HUBUNGANNYA ?
 

PENGUKURAN

Sebagai seorang teknisi, peneliti atau akademisi, kita akan sering berhubungan dengan pengukuran. Entah itu pengukuran temperatur, RH, panjang, berat, daya listrik, tegangan listrik, arus listrik dan lain-lainnya. Pada hakekatnya mengukur adalah membandingkan sesuatu besaran dengan sesuatu yang kita sebut alat ukur atau ukuran. Setiap alat ukur pastilah mempunyai satuan. Kita dapat mengukur panjang, misalnya, dengan satuan depa, tumbak, langkah, kaki, meter. Mengukur berat dengan satuan kilogram, lb, kati, dan lain-lain.

Untuk mendapatkan nilai yang benar dari suatu pengukuran dengan satu alat ukur kadang kita harus melakukan pengukuran berulang-ulang. Sehingga hasil pengukuran itu bisa kita nyatakan dengan suatu nilai (rata-rata) dan kesalahannya (deviation, penyimpangan). Kesalahan pengukuran akan muncul karena kita tidak pernah mengetahui nilai besaran sebenarnya (harga sebenarnya). Kesalahan tersebut bisa muncul karena keterbatasan alat ukurnya atau operatornya.
 

STANDAR NILAI

Kadang kita juga harus mengukur besaran yang sama dengan alat ukur yang berbeda. Misalnya, kita mengukur panjang meja dengan meteran gulung, dengan mistar, atau yang paling sederhana dengan jengkal kita. Pertanyaan yang muncul adalah yang mana dari ukuran-ukuran itu yang paling benar ?

Memilih alat ukur yang benar, adalah memilih alat ukur yang menghasilkan hasil pengukuran yang paling mendekati kebenaran. Dalam hal ini perasaan dan pengetahuan seseorang menentukan dalam memilih alat ukur tersebut. Kita bisa menganggap bahwa alat ukur yang kita punyai, walaupun hanya seutas tali atau jengkal kita, adalah yang paling benar menurut kita dalam pengukuran panjang. Dan sah-sah saja apabila orang lain tidak sependapat dengan kita. Atau malah orang lain lebih merasa benar dalam mengukur panjang dengan menggunakan sikunya. Persoalannya adalah siapa yang benar ?

Sebagai contoh. Kita ingin mengukur panjang sebuah meja. Dalam pikiran kita, meja tersebut pastilah mempunyai panjang tertentu. Dan pasti (MUTLAK). Untuk mengukurnya saya menggunakan jengkal saya, dan didapat suatu panjang tertentu, misalnya 5 jengkal. Anda mengukur menggunakan siku, dan mendapatkan panjangnya 3 siku. Hasilnya berbeda, padahal yang kita ukur adalah benda yang panjang mutlaknya sama (meja yang itu-itu juga). Saya boleh ngotot bahwa panjangnya 5 jengkal dan anda ngotot 3 siku. Lantas siapakah yang benar ?

Dua-duanya bisa benar.

Untuk itulah kita buat suatu perjanjian, suatu komitmen untuk menggunakan alat ukur dengan satuan yang sama (standar). Alat ukur standar tersebut kita perjanjikan, misalnya untuk panjang kita tentukan yang disebut dengan 1 meter adalah panjang suatu metal yang disimpan dalam kondisi tertentu di negara Perancis. (Atau ada konsensus baru bahwa 1 meter itu sama dengan sekian kali panjang gelombang emisi cahaya Kripton Kr86). Dengan mengacu pada standar tersebut kita bisa menentukan 1 jengkal saya panjangnya berapa kali panjang standar, demikian pula dengan siku anda. Sehingga saya dan anda akan menghasilkan suatu pengukuran yang sama walaupun beda satuan. untuk menyamakan satuan tersebut kita gunakan konversi satuan. Hal yang sama berlaku untuk besaran lainnya.
 

KALIBRASI

Ada kalanya kita mengukur dengan satuan yang sama, tapi beda alat ukur. Apakah hasilnya sama ? Jawabnya belum tentu. Saya punya alat ukur A dengan satuan yang sama dengan alat ukur B kepunyaan anda. Kita sama-sama mengukur panjang meja tadi. Alat ukur saya (A) akan menunjukkan nilai yang lebih besar (atau lebih kecil) dari nilai yang ditunjukkan oleh alat anda (B). Saya bisa ngotot bahwa hasil pengukuran saya yang paling benar. Anda pun boleh ngotor bahwa nilai yang anda dapatkan adalah yang paling benar. Tapi siapakah yang paling benar ? Yang paling benar adalah yang dapat menghasilkan nilai paling mendekati jika digunakan alat ukur standar. Untuk itu supaya perbedaan pengukuran tidak terlalu jauh menyimpang satu sama lainnya, maka kita perlu mengkalibrasi alat ukur kita (A dan B) dengan suatu alat ukur standar (biasanya ada di Badan Metrologi). Dengan menyesuaikan alat ukur kita terhadap alat ukur standar maka kesalahan pengukuran akan menjadi kecil. Jadi kalibrasi adalah suatu cara membandingkan alat ukur kita dengan suatu alat ukur lain yang kita yakini benar, dengan harapan alat ukur kita pada saat digunakan akan menghasilkan nilai yang mendekati (atau sama dengan ) nilai sebenarnya (nilai mutlaknya).
 

AGAMA

Dalam kehidupan sehari-hari untuk berjalan melangkah seringkali kita harus berhadapan dengan nilai-nilai yang harus kita ukur. Ekstrimnya pengukuran nilai-nilai tadi adalah dengan satuan BAIK atau BURUK, SALAH atau BENAR, MASLAHAT atau MUDHARAT, dan seterusnya. Apa alat ukurnya ? Setiap manusia pasti mempunyai alat ukur itu. Tanpa ada alat ukur lain untuk mengukur itu, manusia sebenarnya sudah dilengkapi dengan akal dan nurani. Manusia, dengan kedua alat ini, akan selalu cenderung pada kebaikan. Jadi inilah alat ukur setiap manusia dalam menilai setiap langkah kehidupannya. Seiring dengan perjalanan hidupnya seseorang, akal dan nurani ini akan berkembang tambah baik mendekati kebenaran atau tambah ngaco semakin jauh dari kebenaran. Saya merasa yakin setiap manusia dengan akal dan nuraninya akan mengatakan bahwa mencuri itu merupakan tindakan yang salah, dan harus dihindari. Tetapi dikalangan kelompok manusia pencuri, mencuri adalah suatu tindakan terpuji, dan boleh jadi merupakan tindakan yang benar. Perjalanan hidup pencuri menjadikan mencuri jadi suatu hal yang benar. Walaupun kita boleh yakin bahwa pada awal-awal dia mencuri, dengan akal dan nuraninya, dalam hatinya dia mengatakan mencuri itu salah.

Masalah akan muncul pada saat manusia satu sama lain mulai timbul perbedaan dalam mengukur sesuatu. Suatu perkara bisa dilihat baik atau buruk oleh dua kelompok manusia bergantung pada pengalaman dan kebiasaan kelompok manusianya. Lantas siapakah yang benar ?

Untuk itu kita perlu mengkalibrasi alat ukur kita dengan alat ukur standar, supaya perkara tersebut dapat dinilai dengan harga mendekati pada kebenaran mutlaknya. Problemnya adalah standar mana yang mau kita pakai ?

Ada beberapa standar yang bisa kita pakai dalam menilai suatu perkara yaitu : standar negara (hukum-hukum negara), standar etika (hukum tak tertulis dalam bermasyarakat), standar agama (wahyu atau kitab suci). Dari ketiga standar tersebut dapatlah difahami bahwa dua standar yang pertama adalah buatan/komitmen sekelompok manusia. Yang terakhir lebih bersifat bukan buatan manusia (terutama yang digolongkan agama samawi). Sekarang kitalah yang harus menentukan standar mana yang mau dipakai. Catatannya adalah standar tersebut haruslah diyakini sebagai sesuatu yang paling benar. Sebab kalau dalam diri kita masih ada keraguan terhadap standar yang kita gunakan, berarti hasil pengukuran tidak dapat kita yakini sebagai sesuatu yang benar.

Oleh karena itu, yakinilah suatu standar yang benar dan memang benar-benar benar. Kerena dengan itulah kita dapat melangkah dalam kehidupan ini dengan benar pula.

Anda bertanya, mana yang paling benar ?

Jawabannya adalah : yakinlah anda dengan standar yang anda pegang saat ini dan jalanilah kehidupan dengan benar dan selamat. Faham ?

Ya, tapi mana yang paling benar belum juga terjawab tuh ?

Kalau begitu carilah sendiri kebenaran itu dengan akal dan nurani anda.

Ya akan saya cari, bagaimana caranya ?

Pelajarilah setiap standar yang ada, mana yang paling benar menurut anda itulah yang anda harus pegang dan gunakan.

Perlukah dalam mempelajari standar yang ada kita harus menjalankannya juga ?

Tak Perlu. Cukuplah anda yakini kebenaran yang saat ini anda pegang. Tapi selama mempelajari standar-standar yang lain disamping standar anda sendiri, cobalah buka akal dan nurani anda. Dan saya merasa yakin jika kita mau menggunakan akal dan nurani serta membuka hati kita, kita akan sampai pada kebenaran yang mutlak, dan boleh jadi kita semua akan memegang standar yang sama.
 

Windy H. Mitrakusuma

(Wallahualambissawab, Yang benarnya mohon direnungkan, yang salahnya mohon dikoreksi sendiri. Terima kasih untuk Pak Pratikto, Pak Edmon, Pak Rudi dan Pak Faldian atas diskusinya, mudah-mudahan Allah memberkati diskusi kita)

 



Properties of  Windy Hermawan Mitrakusuma.